Selasa, 24 Januari 2012

HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN KERJASAMA INTERNASIONAL

0




Kerjasama Internasional
 Pengertian
Hubungan kerjasama yang dilakukan oleh 2 atau lebih negara merdeka dan berdaulat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
 Tujuan-tujuan itu antara lain :
 Untuk mencukupi kebutuhan masyarakat masing-masing negara
 Untuk mencegah/menghindari konflik yang mungkin terjadi
 Untuk memperoleh pengakuan sebagai negara merdeka
 Untuk mempererat hubungan antar negara di berbagai bidang
 dll
 Macam-macam perjanjian internasional
1. Kerjasama Bilateral
- Perjanjian yang dilakukan oleh hanya 2 negara saja, bersifat treaty contract
- mis : Indonesia – Cina
2. Kerjasama Regional
- Perjanjian yang dilakukan oleh beberapa negara yangterdapat dalam 1 kawasan, bersifat law making treaty terbatas dan treaty contract
- mis : ASEAN, Uni Eropa
3. Kerjasama Multinasional
- Perjanjian yang dilakukan oleh negara-negara tanpa dibatasi oleh suatu region tertentu, bersifat internasional, bersifat law making treaty
- mis : PBB, FIFA
 Dari sekian banyak perjanjian internasional, yang terpenting hanya 3 yaitu : Traktat, Konvensi, Pakta.
 Dalam pembuatan perjanjian internasional, tahap yang harus dilalui ada 3 :
 Perundingan (negotiation)
 Tim perunding harus mempunyai surat “full powers”,yaitu surut yang menunjukkan bahwa si pembawa surat adalah wakil resmi tertinggi dari negaranya yang diutus untuk mengadakan negosiasi
 Penandatanganan (signature)
 Pengesahan (Ratification)
 Ada 3 lembaga, lembaga eksekutif (presiden/PM), Legislatif (parlemen), Campuran (keduabelah pihak)
 Kapan perjanjian internasional dapat mulai berlaku?
 Sesuai yang disebut dalam naskah perjanjian itu
 Apabila di dalam naskah tidak tercantum mulai saat berlakunya, maka didasarkan kepada kesepakatan di antara mereka
 Ketaatan terhadap perjanjian
 Perjanjian harus dipatuhi (pacta sunt servanda)
 Kesadaran hukum nasional, pelaksanaan Perjanjian internasional dianggap sebagai bagian dari pelaksanaan hukum nasional
 Penerapan perjanjian
 Daya berlaku surut (retroactivity), artinya aturan perjanjian berlaku juga terhadap permasalahan yang terjadi sebelum perjanjian itu dibuat
 Wilayah penerapan (teritorial scope),ditentukan dalam perjanjian
 Perjanjian penyusul (successive treaty), dibuat perjanjian baru karena yang lama tidak sesuai lagi dengan perjanjian.

Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia
 Landasan hukum
¡ Ideal : Pancasila
¡ Struktural : Pembukaan UUD 45 alinea I &IV
¡ Operasional : Tap MPR/MPRS
 Latar Belakang
¡ Adanya kekhawatiran akan persaingan antar blok barat dan timur, akan menyeret Indonesia ke ajang persaingan tersebut karena sasarannya adalah negara-negara berkembang termasuk Indonesia.
¡ Adanya tekad kuat untuk menjadi subyek dalam kegiatan internasional, dan keinginan untuk berpartisipasi dalam perdamaian dunia.
 Sifat Politik luar negeri
¡ Bebas dan aktif
 Pelaksanaan Politik Luar negeri
¡ Era 1945 – 1949 .masa mempertahankan kemerdekaan
¡ Era 1949 – 1950 . Masa berbentuk serikat
¡ Era 1950 – 1959 . Masa liberalisme, model barat
¡ Era 1959 – 1966 . Masa pro timur, komunisme
¡ Era 1966 – 1998 . Masa Orde baru
¡ Era 1998 – skr . Masa reformasi

PERSERIKATAN BANGSA BANGSA (PBB)
 Sejarah berdiri
Adanya upaya mewujudkan perdamaian dunia yang digagas oleh Winston Churchill (Inggris) dan FD. Roosevelt (USA) ditunjukkan dengan ditandatanganinya piagam “Atlantic Charter” tgl 14 Agustus 1941, disebut sebagai embrio lahirnya PBB
 Berdiri secara resmi 24 Oktober 1945 lewat piagam San Fransisco yang ditandatangani 50 negara sebagai anggota asli.
 Tujuan :
 Menciptakan perdamaian dan keamanan internasional
 Mencegah perang antar negara
 Membina hubungan antar bangsa di berbagai bidang
 Kantor pusat di New York USA
 Alat Kelengkapan (Badan-badan) PBB
 Majelis Umum (MU)
 Dewan Keamanan
 Dewan Ekonomi dan Sosial (Ecosoc)
 Dewan Perwalian
¡ Mahkamah Internasional
¡ Sekretariat Jendral
 Peranan PBB
1. Mengirimkan pasukan perdamaian ke berbagai negara
2. Menjadi fasilitator berbagai perundingan perdamaian
3. Memberi bantuan ke negara-negara yang membutuhkan
4. Membimbing negara yang baru merdeka agar bisa mandiri
5. Menghukum/memberi sangsi kepada negara yang melanggar aturan internasional dan mengganggu perdamaian

Selasa, 17 Januari 2012

Indonesia dan Australia

0





Review Kerjasama Bidang Pendidikan Antara Indonesia - Australia

1.    Australia dan Indonesia mempunyai sejarah yang panjang dalam hal kerjasama pendidikan. Pada beberapa tahun terakhir ini, hubungan kerjasama di bidang pendidikan telah mendapat dukungan dari berbagai kalangan pejabat pemerintahan. Pada bulan November 2008, Menteri Pendidikan Australia (Ms. Julia Gillard) dan Indonesia (Bpk. Bambang Sudibyo) telah menandatangani MoU yang bertujuan untuk memfasilitasi dan memperkuat hubungan kerjasama pendidikan antar ke dua negara. Penandatangan MoU tersebut di lakukan di gedung Parliament, Canberra, pada saat acara pertemuan Australia-Indonesia Ministerial Forum (AIMF) ke 9.

Pelajar Indonesia di Australia
2.    Pelajar Indonesia di Australia saat ini berjumlah kurang lebih 16.000 orang, dan menempati posisi ke 8 dari keseluruhan jumlah  pelajar internasional di Australia. Kurang lebih 1000 pelajar  mendapatkan beasiswa pendidikan dari pemerintahan Australia. Sedangkan penerima beasiswa dari Pemri ada sekitar 500 pelajar. Hal ini berarti bahwa terdapat kurang lebih 14.500 sebagai private students. Seluruh pelajar Indonesia yang sedang menjalani studinya di Australia mendapatkan pendidikan yang berkelas dunia. Disamping itu, Australia juga mendapatkan berbagai keuntungan ekonomi dari seluruh pelajar Indonesia, seperti pembayaran biaya pendidikan dan biaya hidup selama di Australia.

Beasiswa dari pemerintahan Australia
3.    Pemerintahan Australia memberikan berbagai beasiswa pendidikan kepada pelajar Indonesia untuk belajar di Australia. Beberapa dari beasiswa tersebut diberikan oleh Australian Agency for International Development (AusAID), Australian Development Scholarships (ADS) dan Australian Leadership Awards (ALA). Beasiswa Endeavour Awards diberikan oleh Department of Education, Employment and Workplace Relations (DEEWR), dan dari Australia Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD). AIPRD dibuat sejak 2005 oleh kedua pemerintahan Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk membantu rekonstruksi dan pembangunan pada bencana tsunami di Indonesia. Sejak tahun 2008, kemitraan AIPRD digganti dengan Kemitraan Indonesia-Australia (Australia-Indonesia Partnership) yang akan berlangsung sampai tahun 2013. Dalam bidang pendidikan, Kemitraan Indonesia-Australia bekerja untuk memberikan peluang bersekolah bagi murid-murid SD di daerah terpencil dan miskin. Pemerintah Australia menyediakan dana sebesar AU$355 juta untuk pembangunan kurang lebih 2000 sekolah, dan program tersebut dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.

4.    Beasiswa AusAID juga diberikan kepada daerah Asia Pacific lainnya, namun Indonesia mendapatkan share beasiswa yang cukup besar. Untuk pembagian beasiswa dari ALA (Australia Leadership Awards),  terdapat 150 penerima ALA setiap tahunnya, dan pada tahun 2008 dan 2009, Indonesia mendapatkan share beasiswa tertinggi dari negara lainnya, hal ini disebabkan banyaknya calon pemimpin yang potensial dari Indonesia. Selain dari pada itu, lebih dari 300 beasiswa ADS telah diberikan pada mahasiswa/i Indonesia pada tahun 2009. Lebih dari 11.000 pelajar Indonesia telah mendapatkan beasiswa ADS selama lebih dari 50 tahun. Data ini menunjukkan komitmen pemerintahan Australia dalam kerjasama yang kuat dengan pemerintahan Indonesia dalam hal pendidikan. Kerjasama ini juga memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Beasiswa dari pemerintahan Indonesia
5.    Pemerintahan Indonesia juga memberikan beasiswa pendidikan bagi pelajar Indonesia untuk melakukan studinya ke Australia. Beasiswa DIKTI, Kementerian Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan meningkatkan kualitas dosen untuk dapat melakukan studi S2/S3 di luar negeri. Australia adalah salah satu negara tujuan untuk pelajar penerima beasiswa DIKTI. Pada tahun 2008, DIKTI memberikan beasiswa kepada 262 mahasiswa, dan tahun 2009 sebanyak 226 mahasiswa. Selanjutnya, 1/4 dari seluruh penerima beasiswa memilih untuk melakukan studi di Australia.

6.    Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia juga memberikan beberapa beasiswa kepada pelajar Indonesia dalam program Beasiswa Unggulan. Saat ini, terdapat 11 pelajar Indonesia yang sedang melakukan program Beasiswa Unggulan untuk pendidikan S2 maupun S3 di Australia.

7.    Jumlah pelajar Indonesia di Australia baik yang biaya sendiri maupun yang mendapatkan beasiswa, mempunyai peran penting dalam membangun hubungan antar negara. Pelajar Indonesia di Australia juga dapat membangun dan mempromosikan Indonesia dari dalam Australia dan juga dapat mengapresiasikan budaya Australia. Pertukaran pelajar antar Indonesia dan Australia juga merupakan peran penting dalam melakukan diplomasi publik.

Pelajar Australia di Indonesia
8.    Pelajar Indonesia di Australia jumlahnya sangat banyak, akan tetapi pelajar Australia di Indonesia masih sangat kecil jumlahnya, hanya sekitar 50 s.d 100 pelajar per tahun. Pelajar Australia di Indonesia banyak melakukan studi di Indonesia dalam program short-term yang berkisar dari beberapa minggu sampai dengan 1 tahun.

9.    Mayoritas pelajar Australia yang belajar di Indonesia mengikuti program ACICIS (Australian Consortium for “In-country’ Indonesian Students), sebuah organisasi yang bertujuan untuk memberikan dukungan kepada pelajar Australia untuk belajar di Indonesia. ACICIS juga bertugas untuk mengatur dan menyiapkan persiapan visa bagi seluruh pelajarnya dan bekerjasama dengan pihak universitas di Indonesia. Sejak didirikannya pada tahun 1994, lebih dari 900 pelajar dari 33 universitas telah melakukan program ACICS. Program ACICIS berperan aktif dalam memajukan spesialis Indonesia bagi Australia.

10. Pemerintahan Indonesia juga turut membantu pelajar Australia untuk melakukan studi di Indonesia. Setiap tahunnya, Kementerian Pendidikan Nasional memberikan beasiswa Darmasiswa kepada non-Indonesia yang ingin melakukan studi bahasa, seni dan budaya. Pada tahun 2008-2009, terdapat 11 pelajar dari Australia yang telah menerima beasiswa Darmasiswa, sedangkan untuk tahun 2009-2010, terdapat 5 pelajar Australia. Dengan adanya kedua inisiasi kegiatan dalam hal kerjasama pendidikan, diharapkan kedepannya pelajar Australia ke Indonesia dapat meningkat dan hubungan antar kedua negara juga tetap erat.

BRIDGE Program
11. BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialog and Growing Engagement), terlaksana atas kerjasama antara  Asia Education Foundation (AEF) dan Australia Indonesia Institute (AII). Tujuan dari program ini adalah untuk memajukan pendidikan di Indonesia, dan memajukan pemahaman lintas budaya antara Indonesia dan Australia. Tujuan terpenting dalam program ini adalah untuk memberikan pemahaman yang kuat kepada pelajar Australia mengenai Islam kontemporer di Indonesia.

12. Sebanyak 90 Guru  dari Australia dan 90 Guru dari Indonesia, dari 40 sekolah di Australia dan 40 sekolah di  Indonesia turut berpartisipasi dalam program ini. Program ini melibatkan berbagai macam kegiatan, seperti membangun kerjasama antara sekolah Australia dan Indonesia; program kunjungan guru ke sekolah-sekolah di Australia. Program kunjungan ini mempunyai peran penting dalam mempererat hubungan people-to-people contact, dan memberikan dukungan yang kuat kepada pelajar Australia untuk pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Program BRIDGE telah berlangsung selama 3 tahun, dan berakhir tahun 2009. Tetapi tampaknya, akan diperpanjang hingga 5 tahun kedepan.

Dukungan pemerintah Indonesia dalam program pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di Australia
13. KBRI Canberra telah menyambut baik komitmen dari pemerintah Australia dalam pembelajaran Bahasa Asia, termasuk Bahasa Indonesia, melalui program National Asian Languages and Studies in Schools Program (NALSSP). Menanggapi hal dimaksud, KBRI telah mendukung beberapa fasilitas pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia.

14. Pada tahun 2008, KBRI telah bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Pelatihan ACT telah melakukan pilot program yang melibatkan pelajar Indonesia yang sedang melakukan programpostgraduate studies di Australia untuk dapat membantu sebagai asisten guru dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di ACT. Pada tahun 2008, 4 asisten guru telah ditugaskan ke 4 sekolah di ACT. Pada tahun 2009, program ini telah diperluas dan telah melibatkan 14 guru bantu untuk 14 sekolah di ACT, negeri dan swasta. Program guru bantu untuk tahun 2008, telah didanai sepenuhnya oleh Atdiknas, sedangkan untuk tahun 2009, program ini didanai oleh Atdiknas dan NALSSP, Departemen Pendidikan dan Pelatihan ACT, Catholic Education Office Archdiocese of Canberra and Goulburn, dan the Association of Independent Schools (ACT).

15. Program asisten guru bahasa Indonesia berperan penting dalam memberikan kesempatan bagi pelajar Australia untuk belajar secara langsung dengan orang Indonesia dan meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa dan budaya. Para asisten guru bahasa Indonesia juga mendapatkan pengalaman yang unik dalam metode pengajaran di sekolah-sekolah di ACT.

n� m g t @� ��� dding-bottom: 0px; padding-left: 0px; line-height: 18px; text-align: justify; ">6.    Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia juga memberikan beberapa beasiswa kepada pelajar Indonesia dalam program Beasiswa Unggulan. Saat ini, terdapat 11 pelajar Indonesia yang sedang melakukan program Beasiswa Unggulan untuk pendidikan S2 maupun S3 di Australia.

7.    Jumlah pelajar Indonesia di Australia baik yang biaya sendiri maupun yang mendapatkan beasiswa, mempunyai peran penting dalam membangun hubungan antar negara. Pelajar Indonesia di Australia juga dapat membangun dan mempromosikan Indonesia dari dalam Australia dan juga dapat mengapresiasikan budaya Australia. Pertukaran pelajar antar Indonesia dan Australia juga merupakan peran penting dalam melakukan diplomasi publik.

Pelajar Australia di Indonesia
8.    Pelajar Indonesia di Australia jumlahnya sangat banyak, akan tetapi pelajar Australia di Indonesia masih sangat kecil jumlahnya, hanya sekitar 50 s.d 100 pelajar per tahun. Pelajar Australia di Indonesia banyak melakukan studi di Indonesia dalam program short-term yang berkisar dari beberapa minggu sampai dengan 1 tahun.

9.    Mayoritas pelajar Australia yang belajar di Indonesia mengikuti program ACICIS (Australian Consortium for “In-country’ Indonesian Students), sebuah organisasi yang bertujuan untuk memberikan dukungan kepada pelajar Australia untuk belajar di Indonesia. ACICIS juga bertugas untuk mengatur dan menyiapkan persiapan visa bagi seluruh pelajarnya dan bekerjasama dengan pihak universitas di Indonesia. Sejak didirikannya pada tahun 1994, lebih dari 900 pelajar dari 33 universitas telah melakukan program ACICS. Program ACICIS berperan aktif dalam memajukan spesialis Indonesia bagi Australia.

10. Pemerintahan Indonesia juga turut membantu pelajar Australia untuk melakukan studi di Indonesia. Setiap tahunnya, Kementerian Pendidikan Nasional memberikan beasiswa Darmasiswa kepada non-Indonesia yang ingin melakukan studi bahasa, seni dan budaya. Pada tahun 2008-2009, terdapat 11 pelajar dari Australia yang telah menerima beasiswa Darmasiswa, sedangkan untuk tahun 2009-2010, terdapat 5 pelajar Australia. Dengan adanya kedua inisiasi kegiatan dalam hal kerjasama pendidikan, diharapkan kedepannya pelajar Australia ke Indonesia dapat meningkat dan hubungan antar kedua negara juga tetap erat.

BRIDGE Program
11. BRIDGE (Building Relationships through Intercultural Dialog and Growing Engagement), terlaksana atas kerjasama antara  Asia Education Foundation (AEF) dan Australia Indonesia Institute (AII). Tujuan dari program ini adalah untuk memajukan pendidikan di Indonesia, dan memajukan pemahaman lintas budaya antara Indonesia dan Australia. Tujuan terpenting dalam program ini adalah untuk memberikan pemahaman yang kuat kepada pelajar Australia mengenai Islam kontemporer di Indonesia.

12. Sebanyak 90 Guru  dari Australia dan 90 Guru dari Indonesia, dari 40 sekolah di Australia dan 40 sekolah di  Indonesia turut berpartisipasi dalam program ini. Program ini melibatkan berbagai macam kegiatan, seperti membangun kerjasama antara sekolah Australia dan Indonesia; program kunjungan guru ke sekolah-sekolah di Australia. Program kunjungan ini mempunyai peran penting dalam mempererat hubungan people-to-people contact, dan memberikan dukungan yang kuat kepada pelajar Australia untuk pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia. Program BRIDGE telah berlangsung selama 3 tahun, dan berakhir tahun 2009. Tetapi tampaknya, akan diperpanjang hingga 5 tahun kedepan.

Dukungan pemerintah Indonesia dalam program pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di Australia
13. KBRI Canberra telah menyambut baik komitmen dari pemerintah Australia dalam pembelajaran Bahasa Asia, termasuk Bahasa Indonesia, melalui program National Asian Languages and Studies in Schools Program (NALSSP). Menanggapi hal dimaksud, KBRI telah mendukung beberapa fasilitas pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia.

14. Pada tahun 2008, KBRI telah bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Pelatihan ACT telah melakukan pilot program yang melibatkan pelajar Indonesia yang sedang melakukan programpostgraduate studies di Australia untuk dapat membantu sebagai asisten guru dalam pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah di ACT. Pada tahun 2008, 4 asisten guru telah ditugaskan ke 4 sekolah di ACT. Pada tahun 2009, program ini telah diperluas dan telah melibatkan 14 guru bantu untuk 14 sekolah di ACT, negeri dan swasta. Program guru bantu untuk tahun 2008, telah didanai sepenuhnya oleh Atdiknas, sedangkan untuk tahun 2009, program ini didanai oleh Atdiknas dan NALSSP, Departemen Pendidikan dan Pelatihan ACT, Catholic Education Office Archdiocese of Canberra and Goulburn, dan the Association of Independent Schools (ACT).

15. Program asisten guru bahasa Indonesia berperan penting dalam memberikan kesempatan bagi pelajar Australia untuk belajar secara langsung dengan orang Indonesia dan meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa dan budaya. Para asisten guru bahasa Indonesia juga mendapatkan pengalaman yang unik dalam metode pengajaran di sekolah-sekolah di ACT.

Hubungan Perekonomian Indonesia - Jepang

0






Perdagangan



    Bagi Indonesia, Jepang merupakan negara mitra dagang terbesar dalam hal ekspor-impor Indonesia. Ekspor Indonesia ke Jepang bernilai US$ 23.6 milyar (statistic Pemerintah RI), sedangkan impor Indonesia dari Jepang adalah US$ 6.5 milyar sehingga bagi Jepang mengalami surplus besar impor dari Indonesia (tahun 2007)


    Komoditi penting yang diimpor Jepang dari Indonesia adalah a.l. minyak, gas alam cair, batubara, hasil tambang, udang, pulp, tekstil dan produk tekstil, mesin, perlengkapan listrik, dll. Di lain pihak, barang-barang yang diekspor Jepang ke Indonesia meliputi mesin-mesin dan suku-cadang, produk plastik dan kimia, baja, perlengkapan listrik, suku-cadang elektronik, mesin alat transportasi dan suku-cadang mobil.



Investasi



    Investasi langsung swasta dari Jepang ke Indonesia yang menurun sehubungan dengan stagnasi yang dialami perekonomian Indonesia akibat krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1997, kini belumlah pulih sepenuhnya, namun Jepang tetap menempati kedudukan penting di antara negara-negara yang berinvestasi di Indonesia. 
Dalam jumlah investasi langsung asing di Indonesia dari tahun 1967 hingga 2007, Jepang menduduki tempat pertama dengan angka 11,5% dalam kesuluruhannya.


    Terdapat kurang lebih 1000 perusahaan Jepang beroperasi di Indonesia (sumber: JETRO). Perusahaan-perusahaan tersebut memperkerjakan lebih dari 32 ribu pekerja Indonesia yang menjadikan Jepang sebagai negara penyedia lapangan kerja nomor 1 di Indonesia (sumber: BKPM).



Kerjasama Ekonomi



    Indonesia merupakan negara penerima ODA (bantuan pembangunan tingkat pemerintah) terbesar dari Jepang (berdasarkan realisasi netto pembayaran pada tahun 2005 adalah US$1.22 milyar, yaitu + 17% dari seluruh ODA yang diberikan Jepang)
Selain itu, realisasi bantuan untuk tahun 2006 adalah :

Pinjaman Yen
: 125.2 milyar Yen
Bantuan hibah
: 5.4 milyar Yen
  (berdasarkan pertukaran Nota-nota)
Kerjasama teknik
: 7.8 miliar Yen 
  (berdasarkan realisasi pembiayaan JICA)



Lain-lain

1.      Setelah mulainya pemerintahan Yudhoyono, telah dibentuk forum Investasi bersama tingkat tinggi pemerintah-swasta antara Jepang dan Indonesia.
Berdasarkan saran dan dialog yang sejak dulu diadakan antara Japan Club dan pemerintah Indonesia, pada bulan Juni 2005 pada kesempatan kunjungan Presiden Yudhoyono ke Jepang, telah berhasil disetujui SIAP, yaitu rencana strategis investasi yang meliputi 5 pokok, yaiitu masalah bea, customs, tenaga kerja, infrastruktur dan daya saing.
2.      Perundingan resmi “Economic Partnersip Agreement antara Indonesia dan Jepang (EPA)” disetujui oleh pemerintah Indonesia dan Jepang pada waktu Presiden SBY berkunjung ke Jepang dengan resmi pada bulan Juni 2005, setelah itu Presiden SBY dan Mantan Perdana Menteri Jepang, Mr.Abe menandatangani surat persetujuan EPA pada tgl 20 Agustus 2007. Melalui EPA yang telah berlaku efektif dan mulai diimplementasikan pada tanggal 1 Juli 2008 ini, diharapkan perdagangan dan investasi antara kedua Negara dapat meningkat dan semakin berkembang.